HARGA MINYAK NAIK EKONOMI TERANCAM

Lonjakan Harga Minyak, Tragedi Menyedihkan Bagi RI Penulis: Reva SasistiyaJAKARTA–MEDIA: Kenaikan harga minyak mentah dunia yang menembus level US$86 per barel menjadi puncak tragedi paling menyedihkan dalam sejarah Indonesia.Pasalnya, produksi minyak sedang mengalami masa terendah selama 30 tahun yang diperparah dengan melonjaknya cost recovery yang mencapai titik tertinggi dalam sejarah perminyakan nasional.Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) masih belum berniat untuk menambah produksi lagi, setelah bulan lalu menetapkan penambahan sebesar 500.000 barel per hari (bph).Pengamat perminyakan nasional Kurtubi menilai kenaikan harga minyak ini akan berakibat pada bertambahnya defisit APBN. Pemerintah harus menggelontorkan dana lebih banyak untuk menutupi subsidi bahan bakar minyak dan listrik, yang selama ini amat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak.“Sangat menyedihkan melihat situasi saat ini. Sudah dapat dipastikan APBN akan membengkak. Meski di sisi lain, kenaikan harga minyak juga membuat pemasukan dari sektor penjualan gas alam cair juga meningkat, namun hal ini tetap saja tidak mencukui banyaknya subsidi yang harus ditambah pemerintah,” ujar Kurtubi ketika dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Selasa (16/10).Sementara itu, Gubernur OPEC untuk Indonesia, Maizar Rahman, menegaskan meski harga minyak kembali melambung dengan cepat, namun belum ada keinginan dari OPEC untuk menambah kembali produksinya. Sebab, selain memperkirakan stok minyak mentah yang masih berlimpah di dunia, ia berpendapat harga minyak ini akan kembali turun pada November hingga Desember mendatang.“Belajar dari tahun lalu yang juga melonjak, namun kembali turun menjadi US$50 per barel pada Desember. Waktu itu karena musim dingin tidak terlalu keras dan berbagai faktor fundamental lainnya. Tahun ini pun, saya kira akan berlaku sama,” katanya kepada Media Indonesia.Sehingga, lanjutnya, OPEC belum memutuskan untuk menaikkan kembali produksi. Meski, ia tidak menutup kemungkinan hal itu akan turut dibahas dalam Konferensi Tingkat Tinggi OPEC pada 17-18 November mendatang di Riyadh, Arab Saudi.Menanggapi kemungkinan OPEC yang tidak akan menambah produksi, Kurtubi berasumsi hal itu akan memberi tekanan lebih besar pada peningkatan harga minyak menembus level US$100 per barel.“Jika melihat dari kapasitas OPEC yang seperti itu, maka bisa jadi prediksi US$100 per barel akan jadi kenyataan. Seharusnya, OPEC menambah produksinya untuk memperkecil tekanan itu,” komentarnya.Kurtubi pun mengaku tidak sependapat dengan pernyataan Maizar bahwa akan terjadi penurunan harga kembali pada November hingga Desember mendatang.“Permintaan minyak dunia saat ini menunjukkan peningkatan. Dan saya rasa akan terus meningkat. Artinya, tekanan kenaikan harga juga semakin besar,” ujarnya.Maizar sendiri mengaku belum membayangkan harga minyak dapat menembus US$100 per barel.Menurutnya, dengan membandingkan rata-rata harga minyak tahun lalu yang berkisar US$66, maka rata-rata tahunan harga minyak 2007 ini yang sebesar US$67-US$78 belum berbeda terlalu jauh.“Kalau dilihat tahun lalu, belum banyak perbedaan,” ujarnya.Meski demikian, ia mengaku khawatir dengan perkiraan harga minyak menembus US$100 per barel ini. Mengingat, efeknya yang amat besar dalam perekonomian dunia.“Jika sampai nembus US$100 per barel, maka permintaan akan turun karena industri tidak mampu, yang kemudian industri ini akan berhenti beroperasi, selanjutnya perekonomian akan mandek,” tandasnya.Perkiraan harga minyak dunia menembus US$100 per barel telah disampaikan beberapa pengamat minyak dunia.Pemerintah, di sisi lain, seperti dikatakan Dirjen Migas Departemen ESDM Luluk Sumiarso, masih belum mengkhawatirkan kenaikan harga minyak ini.Pemerintah, lanjutnya, masih akan meninjau terus fluktuasi harga tersebut. Sedangkan mengenai pengaruhnya pada APBN, Luluk menjelaskan patokan harga minyak itu belum tentu berdampak pada perubahan subsidi. Sebab, patokan harga minyak yang dipakai pemerintah adalah berdasarkan rata-rata setahun, bukan kenaikan harga sesaat.“Itu kan ada mekanisme. Perubahan APBN tentunya perlu dibahas kembali di Panitia Anggaran dengan menggunakan patokan harga rata-ratas setahun, bukan harga saat ini,” tegasnya.Meroketnya harga minyak ini sebelumnya juga sudah diprediksi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro.“Harga minyak tinggi kemungkinan akan terus tinggi seperti itu.”Menurut Maizar, penyebab kenaikan harga minyak saat ini adalah masalah geopolitik, yakni ketegangan antara Turki dan Kurdi yang dikhawatirkan mengganggu pasokan minyak di wilayah tersebut, melemahnya dolar dan permainan di pasar berjangka AS.“Meningkatnya pembelian ‘minyak kertas’ oleh dana investasi, menurunnya stok minyak di Amerika yang dikhawatirkan tidak akan cukup menghadapi musim dingin,” tambahnya. (Eva/Ol-03) (Media Indonesia; 16/10/2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: