HARGA MINYAK DAN ENERGI GLOBAL

Harga Minyak dan Energi Global  Anak Agung Banyu Perwita Belakangan ini harga minyak dunia menembus angka 88 dollar AS per barrel. Peningkatan tajam harga minyak dunia ini akan mengganggu keamanan energi global. Isu keamanan energi kini telah menjadi salah satu isu terhangat dalam agenda keamanan global dan hubungan internasional. Banyak peristiwa terjadi dalam tatanan interaksi global yang sulit dilepaskan keterkaitannya dengan upaya mendapat kan akses sumber daya energi. Dari sisi konsumsi energi, tingkat konsumsi energi dunia tahun 1980 hingga tahun 2000 mencapai 34 persen. Tingkat konsumsi energi dunia diperkirakan akan meningkat hingga 50 persen dalam dua dekade mendatang. Oleh karena itu, keamanan energi (akses terhadap sumber energi, jalur distribusi, dan tingkat harga) akan semakin menjadi faktor penting dalam hubungan geopolitik dan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi dunia yang relatif begitu tinggi merupakan salah satu faktor penting meningkatnya kebutuhan energi dunia. Hingga tahun 2030 nanti diperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) akan mencapai 3,8 persen per tahun. Perkiraan angka pertumbuhan ini didorong tingkat pembangunan ekonomi makro di beberapa negara besar dunia, seperti AS, RRC, India, dan negara-negara Uni Eropa (UE), khususnya dalam reformasi kebijakan ekonomi dan liberalisasi perdagangan dunia. Hal ini memberi konsekuensi bagi peningkatan kebutuhan energi dunia. Dari estimasi yang tertuang dalam International Energy Outlook 2006, kebutuhan seluruh energi dunia akan mencapai 563 quadriliun BTU (British thermal units) pada tahun 2015. Sementara itu, pada tahun 2030 total kebutuhan energi dunia akan mencapai 722 quadriliun BTU. Pada tahun 2003, kebutuhan energi dunia telah mencapai 421 quadriliun BTU. Dengan demikian, dari tahun 2003 hingga tahun 2030, peningkatan kebutuhan total energi dunia akan mencapai angka 71 persen. Apabila ditinjau dari kebutuhan negara-negara dan negara berkembang atau dalam kategorisasi kawasan, tingkat kebutuhan energi amat didominasi kawasan Amerika Utara (AS dan Kanada), disusul negara-negara Eropa (UE) dan Asia, terutama negara-negara di Asia Timur dan India. Dominasi minyak bumi Dari jenis energi yang dibutuhkan, minyak bumi masih amat mendominasi kebutuhan energi dunia. Kendati kebutuhan energi nonminyak juga mengalami peningkatan, tampaknya kebutuhan minyak dunia bagi industri besar masih belum dapat tergantikan secara signifikan oleh sumber energi lain. Di sisi lain, kendati harga minyak dunia pernah mencapai harga 80 dollar AS per barrel pada tahun 2004 atau mengalami peningkatan sebesar 25 persen dari perkiraan sebelumnya, kebutuhan terhadap minyak bumi tetap terbesar dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Jika pada tahun 2003 konsumsi minyak dunia mencapai 80 juta barrel per hari, tingkat konsumsi minyak dunia akan mencapai 98 juta barrel per hari pada tahun 2015 dan pada tahun 2030 tingkat konsumsi minyak dunia akan mencapai 118 juta barrel per hari. Sebuah studi yang dilakukan Departemen Pertahanan AS tahun 1995 telah memperkirakan keberlangsungan hubungan internasional akan amat terkait dengan masalah kebutuhan dan penyediaan energi (minyak bumi). Pola-pola interaksi yang akan terbangun antaraktor, baik negara maupun nonnegara, akan amat ditentukan faktor sumber daya, distribusi, dan harga pasar yang berlaku bagi sumber daya, khususnya sumber daya energi. Dalam konteks itu, sumber daya energi telah dan akan terus menjadi variabel kunci dalam berbagai kalkulasi keamanan internasional. Secara lebih spesifik, keinginan setiap aktor negara, khususnya negara-negara besar, seperti AS dan negara-negara UE, untuk melindungi akses, aliran distribusi, dan harga minyak ditentukan oleh beberapa ketidakpastian geopolitik global. Ketidakpastian pertama adalah stabilitas politik negara-negara pengekspor minyak. Kekacauan yang terjadi dalam sistem politik di negara-negara pengekspor minyak (pergantian rezim dengan berbagai ideologi berbeda), seperti terjadi di Irak, Venezuela, dan beberapa negara Afrika seperti Angola dan Nigeria, dapat mengganggu stabilitas harga dan distribusi energi minyak dunia. Terorisme dan nuklir Ancaman terorisme merupakan ketidakpastian kedua yang juga amat diperhatikan banyak negara. Berbagai serangan terorisme beberapa tahun terakhir ini di kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, telah menjadi fokus perhatian utama negara-negara besar, seperti AS. Sebagaimana diketahui, kawasan Teluk memiliki hampir 70 persen cadangan minyak dunia. Ancaman terorisme berarti dapat mengganggu akses dan distribusi minyak dunia. Ketidakpastian ketiga yang juga menjadi sorotan utama adalah (kemungkinan) penyebaran senjata nuklir, khususnya di kawasan Teluk. Ancaman terhadap penyebaran senjata nuklir dalam kaitan dengan minyak, dapat dilihat dari tindakan DK PBB terhadap Iran dengan mengeluarkan Resolusi 1747. Di satu sisi, Iran ingin mengembangkan energi nuklir sebagai salah satu energi alternatif jangka panjang, di sisi lain, hal ini dianggap berbahaya karena Iran tidak mematuhi berbagai aturan sebagaimana tercantum dalam NPT. Ketidakpastian berikutnya yang juga mendapat perhatian serius adalah terjadinya berbagai konflik internal di beberapa negara penghasil minyak, seperti di kawasan Afrika dan Timur Tengah. Beberapa konflik komunal yang terjadi di Nigeria dan Afrika, misalnya, dipandang sebagai peristiwa yang dapat membahayakan akses dan distribusi minyak dunia. Anak Agung Banyu Perwita Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung (Kompas; Kamis, 18 Oktober 2007)   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: