PERTEGAS KEBIJAKAN ENERGI

Pertegas Kebijakan Energi
Dampak Lonjakan Harga Minyak ke APBN Masih Netral
Jakarta, Kompas – Pemerintah harus mempertegas kebijakan energi nasional sebagai langkah menghadapi dampak buruk lonjakan harga minyak dunia terhadap perekonomian. Kebijakan pengembangan energi terbarukan yang mandek harus segera dibenahi selain terus berupaya menaikkan produksi migas. Ekonom Faisal Basri, Rabu (17/10) di Jakarta, mengemukakan, pemerintah sama sekali belum memiliki rencana jelas untuk menghadapi dampak negatif lonjakan harga minyak. Sejumlah program pemanfaatan energi nonfosil belum terlihat hasilnya. Padahal, pemerintah sudah berkomitmen tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sampai tahun 2009. “Ketika harga BBM naik tahun 2005, pemerintah mendorong penggunaan batu bara. Belum sampai setahun program itu berjalan, berubah lagi dengan mencanangkan pemanfaatan biji jarak. Lalu ganti lagi dengan biobahan bakar (biofuel). Namun, ketika banyak pelaku usaha masuk ke bisnis biobahan bakar, pemerintah tidak menyiapkan kebijakan harga yang mendukung bisnis di hilirnya. Ini, kan, namanya kebijakan yang setengah-setengah,” papar Faisal. Berdasarkan catatan Kompas, ada sejumlah kebijakan terkait pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil yang dikeluarkan pemerintah. Peraturan itu antara lain Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi, Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006, dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tertanggal 25 Januari 2006 tentang Kebijakan Energi. Dalam ketiga peraturan itu Presiden menginstruksikan 13 menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu dan semua gubernur untuk mengembangkan minyak jarak. Ada juga Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2006 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Batu Bara dan program konversi minyak tanah ke elpiji yang mulai dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2007. Harga minyak mentah mencetak rekor tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Dalam perdagangan di bursa New York, Selasa, harga minyak jenis light sweet sempat menyentuh angka 88,20 dollar AS per barrel. Kemarin harga minyak jenis light sweet untuk pengiriman November masih bertahan di kisaran 87 dollar AS per barrel, sedangkan harga minyak jenis North Sea Brent sekitar 83 dollar AS per barrel. Harga minyak dikhawatirkan segera menembus batas psikologis 90 dollar AS per barrel menyusul krisis berkelanjutan di Timur Tengah. Pemerintah menaikkan harga BBM rata-rata 108 persen pada tahun 2005 ketika harga minyak dunia mencapai 65 dollar AS. Saat ini harga bensin dan solar sudah mencapai 65-70 persen dari harga keekonomiannya, sementara harga minyak mentah baru sekitar 30 persen dari keekonomian. Pemerintah berupaya menekan subsidi BBM tahun 2007 dari Rp 61,8 triliun menjadi Rp 55 triliun, tetapi gagal karena pertumbuhan jumlah kendaraan tidak dapat ditahan. Anggota Komisi VII DPR, Agusman Effendi, mengatakan, pemerintah harus segera membenahi sejumlah pekerjaan rumah terkait kebijakan energi. “Misalnya, peraturan pemerintah tentang panas bumi yang sudah empat tahun belum juga selesai,” ujar Agusman. Padahal, lanjutnya, cadangan panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 6.000 megawatt ekuivalen (MWe). Selain panas bumi, pemanfaatan energi murah, seperti air, juga lamban. Pemerintah juga diingatkan untuk segera menyelesaikan pembentukan Dewan Energi Nasional, sesuai amanat Undang-Undang Energi yang disahkan DPR Agustus lalu. Dewan Energi Nasional yang berada langsung di bawah Presiden berwenang menetapkan langkah penanggulangan kondisi krisis dan darurat energi. Dewan juga bertugas untuk mengawasi pelaksanaan kebijakan energi yang bersifat lintas sektoral. Kinerja migas Upaya mengurangi ketergantungan terhadap migas tetap perlu diikuti dengan memperbaiki kinerja di sektor tersebut. Sebab, sektor migas masih menyumbang 30 persen dari keseluruhan pendapatan negara. Faisal Basri mengatakan, seharusnya kenaikan harga minyak menjadi keuntungan bagi Indonesia jika produksi minyak mentah nasional dapat mencukupi kebutuhan domestik. Namun, penurunan produksi minyak mentah yang terjadi sejak 1997 tidak dapat ditahan. Dua tahun terakhir, produksi minyak mentah bahkan berada di kisaran 950.000 barrel per hari. “Itu pun kalau kondensatnya masih ikut dihitung, sedangkan produksi minyaknya sendiri hanya sekitar 850.000 barrel per hari. Sebenarnya apa yang salah sehingga produksi minyak terus turun, bahkan cadangan baru tidak bertambah,” tutur Faisal. Ia memperkirakan sampai Agustus 2007 dampak kenaikan harga minyak terhadap APBN masih netral karena terjadi keseimbangan antara penerimaan dari sektor migas dan pengeluaran untuk subsidi BBM. Akan tetapi, dengan defisit produksi minyak mentah terhadap impor minyak ataupun produk BBM, pada akhir tahun ini akan ada defisit sebesar 9 miliar dollar AS. Menurut Faisal, penurunan produksi minyak sebesar 50.000 barrel per hari setara dengan kehilangan pendapatan Rp 1 triliun-Rp 2 triliun. Ia mengingatkan, dampak kenaikan harga minyak dengan tidak tercapainya produksi akan semakin terasa pada tahun 2008. Tahun depan pemerintah mematok asumsi produksi minyak mentah 1,034 juta barrel. Angka tersebut lebih tinggi 50.000 barrel dari asumsi tahun ini. Untuk mengantisipasi melesetnya asumsi produksi dan harga minyak, pemerintah mencadangkan dana pengaman krisis Rp 7 triliun dalam APBN 2008. Faisal menilai jumlah itu belum cukup mengantisipasi dampak yang akan muncul. “Kalau kita hanya melihat dampaknya ke APBN, itu tidak seberapa karena masih bisa dikendalikan. Tapi dampaknya ke perekonomian secara keseluruhan sangat luar biasa. Lihat dampaknya ke industri. Kenaikan harga minyak otomatis bakal mengatrol biaya produksi,” paparnya. (AFP/DOT) (Kompas; 18/10/2007) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: