HARGA MINYAK NAIK BERKAH ?

Bank Dunia: Harga Minyak Jadi Berkah Negara Berkembang

TEMPO Interaktif, Washington:Bank Dunia menilai kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia yang telah menembus level US$ 90 per barel akan menjadi berkah buat negara berkembang.

Sebab, menurut Kepala Ekonom Bank Dunia Francois Bourguignon, kenaikan harga itu akan mendorong kenaikan harga ekspor komoditas negara-negara berkembang, di antaranya tembaga dan kopi.

“Kami bisa lebih optimistis ke depan karena permintaan dari Cina dan negara-negara yang ekonominya sedang tumbuh mendorong kenaikan harga minyak mentah dan komoditas lainnya secara bersamaan,” katanya.

Untuk pengantaran November, perdagangan berjangka New York minyak jenis light sweet crude ditutup turun menjadi US$ 88,60 per barel. Angka ini turun dibanding pencapaian harga jual sehari sebelumnya sebesar US$ 90,02 per barel.
Adapun di London, harga minyak jenis brent
North Sea crude untuk pengantaran Desember mencapai US$ 83,79 per barel. Angka ini turun setelah menembus rekor sehari sebelumnya senilai US$ 84,88 per barel.

Pengamat perminyakan Kurtubi mengaku tidak sependapat dengan analisis ekonom Bank Dunia itu. Dia menilai kenaikan harga minyak mentah tidak langsung diikuti dengan kenaikan harga komoditas ekspor. “Yang pasti ongkos produksi industri akan naik, tapi harga komoditas belum tentu naik di pasar internasional,” ujarnya kepada Tempo kemarin.

Kurtubi berargumen, kenaikan harga minyak mentah akan berdampak pada penurunan percepatan ekonomi dunia, dan permintaan terhadap produk akan melemah. Ekonomi dunia bisa-bisa slowdown, permintaan akan turun, dan akan terjadi oversupply. “Artinya, harga produk di pasar bakal turun,” katanya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Iman Sugema, juga berpendapat kenaikan harga komoditas ekspor tidak akan sebesar yang dialami minyak mentah. “Kalaupun harga komoditas ekspor naik, hanya untuk yang terkait langsung dengan minyak, dan kenaikannya pun tidak linear,” katanya.

Pemerintah juga tidak bisa beranggapan ekspor nonmigas tahun ini bakal naik akibat kenaikan harga minyak mentah semata. “Volume produk ekspor tidak bisa digenjot karena produksi butuh waktu lama, begitu juga investasi migas,” Iman memaparkan.

Adapun Kurtubi mengatakan terus meroketnya harga minyak dunia akan memukul perekonomian Indonesia. Terlebih lagi Indonesia tidak lagi mengekspor minyak (net oil importer) selama beberapa tahun terakhir.

“Jika manajemen perminyakan tidak diperbaiki segera, dalam waktu yang tak lama Indonesia akan mengecap malapetaka. Terlebih harga minyak US$ 100 per barel sudah di ambang pintu,” kata Kurtubi.

Kurtubi menyatakan hal utama yang harus dilakukan pemerintah untuk menggenjot produksi minyak adalah mengamendemen Undang-Undang Minyak dan Gas Nomor 22 Tahun 2001. Tiga hal krusial dalam amendemen itu adalah penyederhanaan proses investasi migas agar menjadi satu pintu, penghapusan pajak dan pungutan sebelum produksi dimulai oleh kontraktor migas, serta membentuk badan usaha milik negara khusus untuk menjalankan bisnis migas. (Tempointeraktif; Senin, 22 Oktober 2007 | 03:05 WIB)   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: