KRISIS DIAMBANG PINTU

Krisis Mulai Membayang HARGA saham yang rontok di berbagai bursa dunia, termasuk Jakarta, Senin (22/10), adalah isyarat bahwa perekonomian global masih sangat rentan krisis.¬†Walaupun kemarin harga mulai membaik, termasuk di bursa Jakarta, ancaman krisis tidak boleh dianggap remeh.Sidang tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington, pekan lalu, mengingatkan bahaya krisis baru. Karena itu, negara-negara diminta menempuh kebijakan yang mampu menghadang krisis.Tiga hal penting yang mengingatkan dunia bahwa krisis mulai membayang sekarang ini. Yaitu harga minyak yang terus meroket dan diperkirakan pada Desember menembus US$100/barel. Kedua, nilai tukar dolar yang terus merosot sehingga barang-barang ekspor tidak kompetitif lagi. Dan terakhir adalah krisis kredit macet di sektor perumahan Amerika Serikat yang menciutkan nyali bank untuk menyalurkan kredit.Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan diperkirakan melambat dari perkiraan di atas 5% menjadi sekitar 4,2%.Dampaknya bagi Indonesia tentu besar. Daya tahan ekonomi Indonesia terhadap krisis masih sangat rentan. Kita selalu mengalami risiko lebih pahit daripada negara lain akibat krisis.Dua hal gawat mengancam krisis di Indonesia. Yaitu harga minyak yang terus meroket dan melemahnya dolar yang mengakibatkan ekspor Indonesia kehilangan daya saing karena terlalu mahal. Harga minyak yang melambung tanpa kendali mengakibatkan defisit APBN meningkat tidak tertahankan dan tidak terpikulkan. Bila nanti harga menyentuh US$100/barel, subsidi APBN yang sekarang berkisar pada Rp50 triliun akan membengkak dua kali lipat.Karena tidak terpikulkan, pemerintah mau tidak mau menaikkan lagi harga BBM di dalam negeri. Kebijakan seperti itu di tengah situasi perekonomian global yang juga lesu akan menimbulkan dampak yang mematikan bagi perekonomian nasional.Nah, rontoknya harga saham di bursa dunia awal pekan ini adalah sirene yang kian nyaring bahwa krisis ekonomi global sedang membayang.Bagaimana Indonesia mengantisipasinya? Bila melihat catatan tentang antisipasi terhadap krisis, terutama krisis 1997, Indonesia adalah negara lamban. Kita masih ingat ketika krisis 1997 mulai mengancam, Menteri Keuangan saat itu, Marie Muhammad, mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih sangat kuat. Tidak seperti Brasil dan Meksiko yang telah lebih dahulu dihantam krisis.Apa yang terjadi kemudian telah sama kita ketahui. Perusahaan di dalam negeri rontok, rupiah hancur, dan pemerintahan Soeharto ambruk.Antisipasi yang lamban juga terlihat dewasa ini. Di tengah harga minyak yang bertahan di atas US$70 sejak Juli, pemerintah menetapkan US$60/barel sebagai patokan asumsi harga minyak dalam APBN 2008. Bahkan sekarang ketika harga mulai menyentuh US$90 pemerintah menganggap asumsi dan kebijakan perekonomian yang digariskan selama ini sudah berada dalam trek yang benar. Itu penegasan Menko Keuangan Boediono yang berulang kali didengar akhir-akhir ini.Persoalan terbesar perekonomian Indonesia adalah lambatnya–untuk tidak mengatakan tidak sama sekali–ekspansi investasi, terutama investasi langsung modal asing. Pasar bergairah, terutama di pasar modal, tetapi tidak berkontribusi bagi ekspansi perekonomian.Persoalan krusial lain adalah meningkatnya konsumsi BBM di dalam negeri di tengah produksi minyak mentah nasional yang terus menurun. Berbagai insentif eksplorasi tidak kunjung juga menggelorakan minat swasta mencari dan menemukan sumur baru.Sementara itu, potensi di Cepu yang diperkirakan mencapai 150 ribu barel per hari hingga sekarang tidak bisa dimanfaatkan karena pertikaian yang belum juga beres antara Exxon dan Pertamina. Pertikaian itu semakin rumit karena politikus ikut meramaikan pertarungan kepentingan.Indonesia pasti menghadapi risiko krisis yang lebih buruk karena diperparah infrastruktur yang amat menyedihkan.(Media Indonesia; 24/10/2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: